Cak Sholeh Meninggal Dunia, Advokat “No Viral No Justice” Berpulang Usai Berjuang Melawan Autoimun

HEADLINE37 Dilihat

Surabaya – Kabar duka menyelimuti dunia advokasi. Pengacara kondang asal Surabaya, Muhammad Sholeh atau yang akrab disapa Cak Sholeh, meninggal dunia pada Jumat (7/8/2026) sekitar pukul 03.00 WIB.

Advokat kelahiran 2 November 1975 itu mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif di RS Siloam. Cak Sholeh diketahui telah berjuang melawan penyakit autoimun yang dideritanya selama kurang lebih lima tahun.

Kabar wafatnya Cak Sholeh pertama kali beredar melalui status WhatsApp pribadinya. Pihak keluarga menyampaikan kabar duka sekaligus meminta masyarakat memaafkan segala kesalahan almarhum selama hidup.

“Assalamualaikum wr wb. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Telah berpulang ke rahmatullah suami, ayahanda kami tercinta H. Muhammad Sholeh, SH pada hari Jumat 7 Agustus 2026. Mohon dimaafkan atas segala kesalahan dan kekhilafan beliau semasa hidupnya,” demikian pesan keluarga.

Jenazah Cak Sholeh kemudian dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Singa Putih Munfaridin, Prigen, Kabupaten Pasuruan. Sementara rumah duka berada di Jalan Lebak Rejo Utara II Nomor 49-51, Surabaya.

Kabar tersebut juga dibenarkan sang istri, Ana. Ia meminta doa dari masyarakat sekaligus memohon maaf atas kesalahan yang mungkin pernah dilakukan almarhum.

Ana mengatakan, Cak Sholeh menjalani perawatan di rumah sakit selama sekitar 20 hari sebelum akhirnya meninggal dunia.

“Jam 3 pagi (meninggalnya), dirawat di RS Siloam. Sakit autoimun, sudah lima tahun sakitnya. Di rumah sakitnya sudah 20 hari,” kata Ana, dikutip Suara Surabaya, Jumat (7/8/2026).

Aktivis yang Beralih ke Dunia Advokasi

Muhammad Sholeh merupakan advokat lulusan Fakultas Hukum Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Sebelum dikenal sebagai pengacara, Cak Sholeh lebih dahulu aktif sebagai aktivis mahasiswa.

Ia tercatat aktif di Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), organisasi yang berafiliasi dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Perjalanan Cak Sholeh sebagai aktivis pada masa Orde Baru tidak berjalan mulus. Pada 1996, ia pernah ditangkap dengan tuduhan melakukan kegiatan subversif dan dijatuhi hukuman empat tahun penjara.

Cak Sholeh menjalani hukuman sekitar satu setengah tahun di Lapas Kalisosok. Setelah itu, ia kembali menekuni dunia hukum hingga akhirnya dikenal sebagai salah satu advokat yang vokal dalam mengawal berbagai persoalan hukum.

Namanya semakin dikenal publik setelah menangani sejumlah perkara yang menjadi perhatian masyarakat. Ia juga sempat terjun ke politik dengan mendaftarkan diri sebagai bakal calon Bupati Sidoarjo melalui PDI Perjuangan pada 2024.

Identik dengan “No Viral No Justice”

Di tengah kiprahnya sebagai advokat, Cak Sholeh dikenal luas melalui slogan “No Viral No Justice”.

Slogan tersebut menjadi bentuk kritik terhadap praktik penegakan hukum yang dianggap baru bergerak setelah suatu perkara menjadi viral dan mendapat perhatian publik.

Istilah itu kemudian berkembang menjadi nama lembaga bantuan hukum yang dipimpinnya. Melalui lembaga tersebut, Cak Sholeh aktif mendampingi masyarakat, terutama mereka yang merasa kesulitan mendapatkan akses terhadap keadilan.

Konsistensinya dalam mengawal berbagai persoalan hukum membuat sosok Cak Sholeh cukup dikenal, tidak hanya di kalangan advokat, tetapi juga masyarakat luas dan pengguna media sosial.

Sempat Sampaikan Kondisi Kesehatan

Beberapa pekan sebelum meninggal dunia, tepatnya 16 Juli 2026, Cak Sholeh sempat mengabarkan kondisi kesehatannya melalui media sosial.

Dalam unggahannya, ia menjelaskan perubahan pada wajah dan bentuk tubuhnya merupakan dampak dari pengobatan yang sedang dijalaninya.

“Akeh sing takok, Cak Sholeh kok pipine tambah boblem, Cak Sholeh tambah lemu. Heh, iki gak tambah lemu Bro. Kebetulan Cak Sholeh ini lagi sakit efek obat. Jadi kelihatan tambah tembem,” ungkap Cak Sholeh dalam unggahan tersebut.

Ia juga meminta doa kepada masyarakat agar diberikan kesembuhan sehingga dapat kembali menjalankan aktivitasnya sebagai advokat dan mendampingi masyarakat yang membutuhkan bantuan hukum.

“Teman-teman mohon doanya supaya Cak Sholeh tetap sehat supaya bisa banyak bantu orang-orang kecil untuk mencari keadilan. Ojo lali yo, dungakno Cak Sholeh selalu sehat,” tambahnya.

Kini, perjuangan Cak Sholeh telah berakhir. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan sejawat, aktivis, serta masyarakat yang selama ini mengenalnya sebagai advokat vokal dalam memperjuangkan akses terhadap keadilan.

Sosok Cak Sholeh akan dikenang melalui perjalanan panjangnya, dari seorang aktivis mahasiswa hingga menjadi advokat yang dikenal dengan kritik kerasnya terhadap penegakan hukum.

Selamat jalan, Cak Sholeh. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *