Lombok Barat – Presiden Prabowo Subianto meresmikan lima bendungan strategis yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia pada Jumat, 10 Juli 2026. Peresmian dipusatkan di Bendungan Meninting, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan dilakukan secara serentak untuk lima bendungan yang berada dari wilayah timur hingga barat Indonesia.
Kelima bendungan tersebut meliputi Bendungan Meninting di Lombok Barat, NTB; Bendungan Sidan di Gianyar, Bali; Bendungan Jlantah di Karanganyar, Jawa Tengah; Bendungan Keureuto di Aceh Utara, Aceh; serta Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Aceh.
Pembangunan lima bendungan tersebut melibatkan sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya, antara lain PT Hutama Karya (Persero), PT Nindya Karya (Persero), PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk.
Bendungan Meninting
Bendungan Meninting yang berlokasi di Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat menjadi lokasi utama peresmian oleh Presiden. Proyek yang dimulai sejak 2018 ini memiliki nilai investasi sekitar Rp1,47 triliun.
Paket I pembangunan senilai Rp902 miliar dikerjakan oleh Kerja Sama Operasi (KSO) Hutama Karya–Bahagia Bangunnusa, sedangkan Paket II dilaksanakan oleh KSO Nindya Karya–SAC Nusantara.
Direktur Utama PT Nindya Karya (Persero), Firmansyah, mengatakan pihaknya berkomitmen mendukung program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Bendungan Meninting memiliki kapasitas tampung sebesar 9,91 juta meter kubik dan dirancang untuk melayani irigasi seluas 1.559 hektare, menyediakan air baku sebesar 0,15 meter kubik per detik, mengurangi risiko banjir pada area seluas 59 hektare, serta memiliki potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berkapasitas 0,80 MW dan PLTS terapung sebesar 9,23 MW,” ujarnya.
Bendungan Sidan
Di Provinsi Bali, Bendungan Sidan yang berada di Kabupaten Gianyar turut diresmikan. Bendungan ini memiliki kapasitas tampung sebesar 5,76 juta meter kubik dan dibangun dengan kontribusi PT Brantas Abipraya (Persero).
Keberadaan bendungan tersebut akan menyediakan air baku sebesar 1,75 meter kubik per detik, mengaliri jaringan irigasi sepanjang 123,19 kilometer, mengurangi potensi banjir hingga 108 hektare, serta menghasilkan energi listrik sebesar 8,08 MW.
Bendungan Jlantah
Bendungan Jlantah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dibangun oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk dengan kapasitas tampung mencapai 10,97 juta meter kubik dan luas genangan sekitar 50 hektare.
Selain menyediakan air baku sebesar 125 liter per detik bagi masyarakat, bendungan ini diproyeksikan mampu mendukung produksi padi hingga 27.000 ton per tahun.
Lokasinya yang berada di kawasan wisata Tawangmangu dan lereng Gunung Lawu juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif di wilayah sekitarnya.
Bendungan Keureuto
Bendungan Keureuto di Kabupaten Aceh Utara menjadi salah satu bendungan terbesar yang diresmikan. Infrastruktur ini memiliki kapasitas tampung mencapai 215,94 juta meter kubik dengan luas genangan sekitar 896,39 hektare.
Pembangunannya melibatkan PT Brantas Abipraya (Persero) bersama PT Hutama Karya (Persero) dengan nilai proyek sekitar Rp700 miliar. Bendungan ini diharapkan mampu meningkatkan layanan irigasi, penyediaan air baku, serta pengendalian banjir di wilayah Aceh.
Bendungan Rukoh
Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Aceh, menjadi bendungan yang berada di wilayah paling barat Indonesia dalam rangkaian peresmian tersebut.
Bendungan dengan kapasitas tampung 128,65 juta meter kubik dan luas genangan sekitar 700 hektare ini dibangun secara bertahap selama periode 2018–2024 dengan total anggaran sekitar Rp1,7 triliun.
Paket pertama pembangunan dikerjakan oleh PT Nindya Karya (Persero) yang meliputi pekerjaan spillway atau saluran pelimpah. Sementara paket kedua dikerjakan oleh Kerja Sama Operasi PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dan PT Andesmont Sakti untuk pembangunan tubuh bendungan serta bangunan pengelak.
Dengan diresmikannya lima bendungan strategis tersebut, pemerintah berharap infrastruktur sumber daya air nasional semakin kuat dalam mendukung ketahanan pangan, penyediaan air baku, pengendalian banjir, pengembangan energi terbarukan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah. (*)

